Kumpulan Puisi 'GALAU' 2016






"SEPENGGAL LUKA"

 Angin kemarau berhebus di tengah malam
berlarian dari balik punggung bukit gersang
Menerpa wajah kusut bak benang tak terurai
menjamah sukma getarkan alam semesta

Diri terjaga di antara bising nyanyian serangga
Terkulai lemas sekelebat bayang lepas
merongrong nyaris berujung durjana
menorehkan kisah kelam dalam bejana

Tiada dapat ku pahami
arti dari semua yang kau beri
Sepenggal luka tersaji di sanubari
bersemayam rapi tak kan terganti

Tangisan kecil pecahkan ilusi
Sirnakan nestapa hapus iri dengki
tak kan ku biarkan diri patah hati
terbalut kelam di sepanjang hari

Ku raih seutas tongkat harapan
Berjalan tanpa arah tujuan
menelusuri serpihan kenangan
yang terkubur dalam onggokan penderitaan

Kehadiranmu sirnakan derita
Lenyapkan nestapa dalam duka
Walao secepat kilat kini kau tertawa
Namun setidaknya rasa itu pernah ada

Biarkan piciik pikiran tertawa kanku
Namun tk mudah tuk menutup kisah ini
biarlah derita semakin menggunung
Namun kasihku tak aan terselubung

Kan selalu ada ada..
Entah sampai lelah mata ini
Tuk berbagi cerita bukan masa lalu.


" REMBULAN MALAM"

Rembulan bersinar penuhi mayapada
rintihan duka hapuskan asa
Lentik jemari menari di atas cakrawala
goreskan derita dibalik senandung asmara

Kutatap bias aura pesona
kian pudar seiring jeritan luka
meratap tanpa ada sanak saudara
saat ku sadari ku terjebak dalam gulita

Rembulan...
Mengapa sinarmu tak selembut dulu
mengapa wajahmu pucat nan sendu
Apakah kini engkau telah layu
ataukah itu hanya tipu muslihatmu

Rembulan...
Tiada ku mengerti apa arti hadirmu kini
Sebuah sinar yang tulus menyinari
Ataukah sinar yang menyilaukan hati
hingga melelehkan relung sanubari

Rembulan...
Kau tak seindah malam dahulu
Kau tak mempesona kala itu
Kini kau laksana terbelenggu
Oleh gumpalan awan dimatamu

Rembulan...
malam ini tak ingin ku menikmati sinarmu
tak ingin ku memuja kharismamu
karna apapun yang ku lakukan untukmu
Semuanya tak kan goyahkan pendirianmu

Rembulan...
Segeralah sirna dari peredaran maya
Biar sanubari tiada terus bersua
Janji palsu sesakan dada
hancurkan jiwa tuk bercinta

Wahai...mentari
segeralah tampakan senyum elokmu
belailah daku dengan hanggat dekapmu
agar tiada lagi kabut selimutiku
Tuk menatap indah dunia nyataku
dunia dimana kebahagianku telah tercecer
Oleh senyum palsu rembulan kelabu

" LANGKAH PENDERITAAN"
 
Deru angin kemarau tebarkan kedukaan
Dedaunan gugur terhempas,tercampakan
tertatih kuseret langkah penderitaan
Menghindar dari kubangan kedustaan

Dewi malam menyapa penuh keramahan
Membelaiku manja dalam dekapan
Seakan tersentuh pilunya perasaan
hingga tiada tega ku melepas gengaman

Bias senyum sayu tiada kudapatkan
Swara lirih nan merdu raib tanpa pesan
tanpa perasaan,tanpa sebuah ucapan
walao sekedar kata perpisahan

Kembali ku sibak bekas guritan
Yang nyata di sanubari kini tersimpan
heemmm..smua indah tak terlukiskan
Kata mesra penuh rayuan

Mendadak lentera padamkan angan
gulita pekat pudarkan harapan
Ketika lambaian tangan
Tanda perpisahan

Secepat itukah rembulan terhalang awan
sekilas itukah arti sebuah senyuman
Ternyata sinar rembulan hanyalah hayalan
karna sinarnya tiada mampu menembus awan

Kini kurcaci kosong menatap awan
terisak diantara rerumputan
meratapi duka yang tak bertuan
Entah sampai kapan
Mungkin sampai lelah menunggu awan
serta berharap,.......

Segerakah awan menjadi hujan


"AIRMATA MALAM"

Angin berhebus lirih di keheningan malam..
Seirama dengan rintihan serangga riang...
Kala jemari bergerak mengusap air mata..
Menghapus segala jejak terlewati...

Sejenak kupandangi maya pada...
Rembulan tersenyum di apit bintang gumintang...
Namun senyumnya hambar tiada berperasaan...
Sinis,tiada sehangat kala itu...

Lantunan tawa kembali gairahkan rasa...
Merasuk menusuk sukma raga..
Namun entah mengapa...
Senyum yang kurasa kini jauh beda..

Apakah kau telah jemu...
Ataukah hatimu terbelenggu...
Atau.... sudah ada penggantiku..
Hingga ku merasa senyumu tal berarti bagiku...

Kucoba sirnakan bayanganmu...
kucoba raibkan nada tawamu...
Namun kini ku belum mampu...
tuk menanggalkan hasrat laraku...

Semudah itukah perubahanmu..
Semudah itukah kau berpaling dariku...
Lalu...apa arti semuanya...
Tangisanmu,gelak tawamu, janji manismu saat bersama dulu..

Kini ku berjalan tanpa bimbinganmu...
Ku melangkah tanpa petunjukmu..
Terjerumus dalam...dalam dan dalam...
Uluran tangan yang kuharapkn...
Tapi begitu tega...larian kecil kau pilih tuk menghindar dariku...

Hanya derita yang kurasa.
Hanya airmata menjadi teman setia..
Walau kau berkata" lupakan'" semuanya...
Namun aku kan mencoba berkata" aku kan tetap setia"
Sampai ku menutup mata...

 "TIADA LAGI SANDARAN HATI"

Kala rembulan terkikis awan kelam
Sinarnya tak seindah malam kemarin
saat ku pertaruhkan sebuah perasaan
Dimana guncangan dahsyat merapuhkan segalanya

Seakan waktu tiada berjalan
Detak jantung pun enggan berdetak
Langkah kaki pun terasa berat
disaat terucap kata perpisahan

Kini tiada lagi penerang kalbu
kini sirna sudah kebahagiaanku
kembali ke nestapa yang kian pilu
Berat terasa perjalanan kasihku

Derai permata bening basahi pipi
menggalir deras bak hujan di bulan januari
Tal terbendung mengoyak isi hati
Menghancurkan sendi nurani

Tiada lagi tempat ku berbagi
Tiada lagi sandaranya hati
Kosong,hampa harus ku jalani
demi cita cinta yang abadi

Harus ku akui kau sangat berarti
kau memang pelita hati
yang menerangi gulitanya nurani
Hingga kudapatkan arti hati nan abadi

Hadirmu kan ku abadikan
dalam setiap hembusan nafas kehidupan
tuk selalu mengistimewakan
sosok sempurna yang tak terjamahkan

Kini tiada lagi amarahmu
Tiada lagi perhatianmu
manjamu, sinismu, setiamu
Yang kan slalu kurindukan

Kasih...
Kini langkah kita tertahan di persimpangan
antara kebahagiaan dan kehancuran
Dan ternyata pilihan kita sama
Kebahagiaan orang yang kita sayàngi
Yang kita pertahankan

Walau kehancuran kini yang kita rasa
Namun keluarga adalah segalanya
tuk melihat dia kembali manja
Mendapatkan kasih sayang kita
Sampai nanti....
Kita tiada sanggup tuk membuat dan melihat dia tetawa

 "TRISNO TANPO SUMANDING"

 Nalikane lumingsire srengenge...
Sliramu tansah kumantil ing netro...
Gawang" esem gemuyumu...
Kang handadik ake tentreme atiku...

Nimas...
duh indahe opo kang tak rasak ke...
Umpomo aku iso sesandingan sliramu..
Dino kelawan dino, musti gawe tentreme atiku....
tak aras rambutmu...
Tak gengem driji tanganmu...
Duh...bejo kemayangan urip iki...

Hananging nimas....
Opo kang tal arep" iki...
lirkadyo ngarepke legine butrowali...
Nganti kapan wae hora bakal legi..
Malah sanyoyo ndadi...

Nimas....
Aku ugo amangerteni roso trisnamu marang aku...
Aku ugo ngrasake, kekarepaning atimu...
Ananging kepriye maneh nimas...
Dalan katrisnan sing tak liwati..
katutup dening tembok wojo...
Kang ora iso tinembus nganti kapan wae....

Sing tak jaluk nimas.....
Trisnamu ora bakal luntur...
ora gambang ilang..
nganti kito pegel...
Lan lesoh amargo kahanan...

Sabar Nimas...
.sabarrrrr...

 "SENYUM SINIS"

Senyum sinis nan sadis menggulung di antara cakrawala...
berbaur dalam mendung memudarkan asa...
tak mengerti mengapa ini kurasa...
tapi kenyataan begitulah adanya...

Kucoba tuk yakinkan dikau..
Bahwa semua tidak seperti yang dikau bayangkan...
Namun semua sia-sia...
Karna dikau tak menganggapku ada...

Kasih...
semua yang ku lakukan...
tal seperti yang kau fikirkan..
karna yang aku lakukan sebatas profesi tuntutan..
Yang harus aku jalani dengan kesungguhan...

Kasih....
Jika profesiku membuatmu tak nyaman..
ku kan mencoba tuk membatasi pergaulan..
Jika itu menbuatmu merasa tenang..
Demi menjaga hati orang yang ku sayang...

Kasih..
Yakinkan hatimu...
mantapkan langkahmu...
Jika semua yang aku lakukan salah dimatamu...
Tegurlah aku, karna itu lebih baik buatku...
dari pada kau membisu tanpa satu kata darimu..

Kasih...

Sirnakan keraguanmu dalam
menghadapiku..karna hatiku tak kan ku bagi tuk yang ketiga..
Cukup dia dan dirimu...
yang selalu mengisiu hatiku

 "BIDADARI TERBELENGGU"

 Derap langkah kaki berjalan di keheningan malam...
Tertatih tatih tanpa tujuan...
Menyeruak diantara gulita pekat...
Mengkorek korek cadasnya kesunyian...

Tertutup rapat gerbang nirwana..
Terbelenggu semua rasa di jiwa..
Senyum yang biasa tersunging di antara gulita malam...
kini raib bak ditelan alam...

Kucoba amati pelan pelan..
kucoba periksa dalam dalam..
Namun bidadari yang ku impikan..
Tiada kunjung pancarkan pesona..

Wahai....bidadariku...
Wahai pelita hatiku...
Sampai kapan raga ini gersang...
Sampai kapan jiwa ini kering kerontang....

Ku ingin setetes embun kedamain...
Ku ingin sapaan lembut bias senyuman...
Adakah terketuk pintu hatimu...
adakah terasa aliran asmaraku..
hingga tergerak jemari indahmu..
Tuk menguak belenggu nirwanamu...

Wahai...alam yang kian gersang..
Temani daku dalam kekeringan..
Agar kita bersatu dalam rasa...
Berbaur dalam ceceran debu nestapa..
tuk menanti tetesan hujan menguyur maya pada...
tuk semaikan benih benih cinta..
Dalam hamparan indahnya bunga asmara...
yang kan menghiasi relung surgawi...

"GULITA SEBELUM MALAM"

Malam pun kian sendu..
Ketika deru angin enggan berhembus..
Hanya nyanyian serangga terdengar parau..
Seakan menyimpan sebuah kerinduan yang terpendam..

Diri terkulai lemas tiada daya..
Terbujur kaku bak tiada bernyawa..
Dimana tiada lagi swara mesra..
Yang selalu bangkitkan rasa nestapa...

Kini jalan terjal smakin nyata..
Terbentang panjang di depan mata..
Hingga langkah sang kaki berat tuk melangkah..
Tuk meniti jalanan penuh onak dan duri...

Mengapa awan sirnakan mentari..
Mengapa gulita sbelum malam tiba..
Hingga tinggalkan sebuah luka..
Menganga...penuh derita..

Kasih...
Jika hatimu sekeras baja...
Mengapa mudah putus asa.
Jika hatimu masih menyimpan rasa..
mengapa tiada dapat aku rasa..

Kasih...
Diri terjebak dalam sandiwara nestapa..
terperosok dalam kubangan derita..
Hingga tiada dapat ku tuk berkata..
Karna bibir ter katup sejuta kata..

Kasih..
Jika itu yang terbaik buat dikau..
Tiada dapat ku paksakan..
Karna aku tau amat lah sakit bila di paksa...
Karna semua butuh kata rela..

Yah....lagi lagi ku hela nafas..
Mencoba tuk merasakan smua getaran yang pernah ada..
ternyata masih sama..
masih ada rasa yang beda..

Namun smua kini sia sia..
Karna dirimu bukan yang dulu..
Karna dirimu ..........
Tak lagi mengganggap aku....

Heeeemmm.....

Disini ku merindu...
Di sana kau bercumbu...
Sembari mendesah akupun berkata'"TERLALU"


"GEJOLAK ASMARA"

Tak kuasa putaran waktu begitu cepat...
Hingga membawaku ke suatu titik...
Dimana aku merasakan suatu gejolak...

Gejolak yang tak berpangkal dan berujung...
ibarat pusaran air yang tak bermuara...
Dimana aku menemukan kedamaian...
Ketenangan jiwa...

Hadirmu sangatlah berarti bagiku..
Seakan memberi warna dalam hidupku...
Dimana aku menemukan..
- canda
- tawa
- tangis
- emosiku

Kasih...
Derai airmata ini
Tak akan cukup
Untuk melukiskan
Rasa cintaku kepadamu

Kasih...

Tawa dari bibir ini
Tak kan mampu
Mewakili kebahagiaan ini

Aku ingin mencintaimu
Sampai mata lelah dan terpejam
Dan....

Aku ingin mencintaimu..
Sampai tak ada lagi..
Kata-kata mewakili nurani

Karena....
Sosokmu pribadi "UNIK" Bagiku...

"TA'BIR"

Gema ta'bir menggema di seantero persada..
Puja puji hanya pada-Nya...
Diri yang berlumur dosa ...
Berharap pengampuna-Nya...

Walau tiada pantas kami di syurga...
namun kami juga tiada kuasa merasakan jilatan api neraka...

Ku bersimpuh di hari nan fitri ini...
Berharap Ridho serta pengampunan..
atas segala kesalahan..
Karna ku tahu Engkau maha pengasih lagi penyayang...

Serta ku ulurkan tangan penuh penyesalan...
Kepada wahai engkau segenap insan..
semoga pintu maaf kembali terkuak.

Tuk diri yang rendah nan nista ini..

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H
Minal AIdin Wal Faidzin
 

"SAMPAI MENUTUP MATA"

Deru beku sang bayu menghujam kalbu...
Ringgkik gulita malam semakin pilu...
Diri menggigil diantara genangan rindu...
Bak bocah kerdil tiada beribu...

Sepintas lirih desah nafas nan sendu...
Hangatkan kalbu cairkan dukaku.
Kembali tersenyum dekap bayanganmu...

Kasih...
Begitu nyata cintamu...
begitu berarti dirimu di kalbuku...
Sehingga lemah ku tanpamu..
Kering kerontang bila tak berpadu...

Kasihmu leburkan nestapa..
mesramu luluhkan derita...
kuingin selalu merangkul asmara...
Entah sampai ku menutup mata..
Ku ingin kau selalu setia..
Menemaniku, berbagi dalam ceria...
Walau kasih kita semu belaka...

Seuntai harapan terbit di bias mega..
Cerahkan hati di saat lara..
Seakan jadi saksi kala dua jemari bersua..
Dalam pinangan kasih selamanya..
Yang kan slalu ku kajaga...
Sampai dunia tiada mampu tuk bercerita..
tentang indahnya cinta kita berdua..

 
Gulita malam tanpa sang bintang...
Dewi malampun rapuh termakan usia..
Kala lentik jemari lincah merangkai kata..
Tuk sekedar padukan asa di jiwa...

Seraut wajah mesra bankitkan imajinasi..
Seraya menuntunku tuk menarikan jemari..
merangkai kalimat tuk memuja ciptaan-Mu..
Diri yang terpana,terpesona desah nafas cinta..

Kasih aroma rindu kian menyengat...
Memenuhi rongga di jiwa..
menebar bias kasih nan mesra..
namun, sayang tak dapat dirasa. ...

Ku coba katupka netra..
kucoba tanggalkan gemerlap cintanya...
Namun hati selalu meronta..
Karna kebahagiaanku ada padanya....

Sejenak jemari terasa kaku...
Tiada dapat meneruskan laju...
Merangkai kata mesra untukmu..
Karna kasihku tiada dapat di ukur waktu...

Kasih...
Pejamkan matamu...
Tarik dalam dalam dan rasakan itu...

Yaaaah....

Getaran itu masih seperti dulu....
Saat pertama kata terucap dariku...

Bahwa......

Aku butuh kamu......
  
 "TERKURUNG RINDU"
Alunan gemercik swara hujan...
Seakan mengiringi desiran rindu..
Di kala senyum manis menari nari..
Di ujung gulitanya malam...

Sejenak kunikmati raut wajah nan indah penuh pesona...
Hingga tak kuasa menahan hasrat tuk jumpa...
kasih....
Seberkas harapan elok tersirat di jiwa..
Tuk slalu berharap menui asa..
Mamun apakah rindu ini lekas mencair..
Atau malah menggunung,mengeras bak cadasnya batu karang..

Kasih...
Namun ku percaya kekuatan kasih kita mengalahkan segalanya...
Walau pemisahnya dinding kaca tak akan bisa jadi penghalang...

Kasih...
Pejamkan mata sayumu ..
Biarkan rindu kita merasuk dalam imajinasimu...
aku pun kan selalu menemuimu..
Walau hanya lewat dunia fatamurgana, ku kan slalu menjagamu walau dalam setiap mimpi malamu...
Hingga sampai titik kelemahnku nanti, dimana tak ada lagi nyanyian suara hati...

Oleh : Ari Megantara & NN

0 Response to "Kumpulan Puisi 'GALAU' 2016"

Post a Comment